Sunday, March 27, 2011

Kombinasi Testosteron Transdermal, Diet dan Olah Raga Memperbaiki Sindrom Metabolik

Studi epidemiologi cross-sectional melaporkan adanya hubungan antara testosteron dalam plasma, sensitivitas insulin dan diabetes mellitus tipe 2. Pria dengan diabetes mellitus tipe 2 mempunyai konsentrasi Testosteron lebih rendah dalam serum dibandingkan pria tanpa riwayat DM, demikian pula terdapat hubungan terbalik antara level testosteron dengan konsentrasi glycosylated hemoglobin (HbA1c), sebagaimana diutarakan Svartberg, 2007 serta Stanworth and Jones, 2009). Menurut Zitzmann dan rekan pada tahun 2006, pada pria dengan testosteron rendah dalam plasma mempunyai resiko terjadinya peningkatan diabetes mellitus tipe 2.

Sedangkan studi lain, studi yang dilakukan selama 52 minggu dengan melakukan diet dan olahraga serta tambahan menggunakan testosteron transdermal, dalam mengurangi sindroma metabolik dan meningkatkan kontrol glikemik pada pria yang baru didiagnosa mengalami diabetes tipe 2 dan testosteron plasma yang subnormal. Studi ini dilakukan oleh Dr. Heufelder dan rekan-rekan dari Jerman, Belanda dan Uni Emirat Arab dan dipublikasikan dalam Journal of Andrology tahun 2009.

Sebanyak total 32 pria dengan hipogonadisme (testosterone total lebih kecil dari 12,0 nmol/L) dan dengan diabetes tipe 2, serta sindrom metabolik yang didefinisikan sesuai the Adult Treatment Panel III and the International Diabetes Federation, yang selanjutnya diberikan diet dan olah raga sebanyak n=16 subyek. Sedangkan 16 subyek lainnya menerima diet, olah raga serta testosterone gel (50 mg) setiap hari. Tidak satupun preparat penurun gula yang diberikan sebelum dan selama periode studi. Pengukuran hasil adalah komponen sindroma Metabolik yang diberikan oleh the Adult Treatment Panel III and the International Diabetes Federation. Perbaikan dalam testosteron dalam serum, glycosylated hemoglobin (HbA1c), glukosa plasma puasa, kolesterol HDL (high-density lipoprotein), konsentrasi trigliserida , dan pengukuran lingkar pinggang pada kedua kelompok pengobatan setelah terapi selama 52 minggu. Hasil studi menunjukkan bahwa penambahan testosterone secara signifikan meningkatkan perbaikan dari parameter pengukuran dibandingkan hanya menjalankan diet dan olahraga saja.

Seluruh penderita yang menjalani diet dan olah raga ditambah testosterone mencapai sasaran HbA1c kurang dari 7,0%; dan 87,5% diantaranya mencapai HbA1c kurang dari 6,5%. Berdasarkan guideline dari Adult Treatment Panel III tersebut 81,3% penderita yang diacak dari diet dan olah raga dengan testosterone tidak lagi masuk kedalam kriteria sindroma Metabolik, sedangkan 31, 3% pada peserta yang hanya melakukan D&E saja yang masuk dalam kriteria tersebut. Tambahan juga , Pengobatan testosterone memperbaiki sensitivitas insulin , adiponektin, dan sensitivitas tinggi dari C-reactive protein.

Kesimpulan studi yang dilakukan dengan penambahan testosterone pada diet dan olahraga akan memberikan perbaikan terapeutik terhadap kontrol glikemik dan sindroma metabolik setelah 52 minggu pengobatan pada penderita hipogonadisme dengan sindroma metabolik dan yang didiagnosa Diabetes mellitus tipe 2.

Sumber : kalbe.co.id

Related Posts Widget for Blogger

No comments:

Post a Comment

did not find what you were looking for? try "search article"