Wednesday, April 13, 2011

Protein yang mengandung Fe (FERRITIN)


Besi merupakan zat penting bagi tubuh manusia karena keberadaannya dalam banyak hemoprotein. Pada penyerapan besi, Fe3+ diubah menjadi Fe2+ oleh enzim feri reduktase dan Fe2+ di angkut dalam enterosit oleh pengangkutan besi membran apikal DMT1. Heme diangkut ke dalam eritrosit oleh pengangkutan heme yang berbeda (HT) dan heme oksidase (HO) membebaskan Fe2+ dari heme.

Sebagian Fe2+ intrasel akan diubah menjadi Fe3+ dan diikat oleh suatu protein yang dikenal dengan ferritin. Ferritin adalah salah satu protein yang penting dalam proses metebolisme besi di dalam tubuh. Pada kondisi normal, ferritin menyimpan besi di dalam intraseluler yang nantinya dapat di lepaskan kembali untuk di gunakan sesuai dengan kebutuhan. Ferritin adalah kompleks protein yang berbentuk globular, mempunyai 24 subunit- subunit protein yang myenyusunya dengan berat molekul 450 kDa, terdapat di semua sel baik di sel prokayotik maupun di sel eukaryotik. Pada manusia, subunit - subunit pembentuk ferritin ada dua tipe, yaitu Tipe L (Light) Polipeptida dan Tipe H (Heavy) Polipeptida, dimana masing - masing memiliki berat molekul 19 kDa dan 21 kDa. Tipe L yang disimbolkan dengan FTL berlokasi di kromosom 19 sementara Tipe H yang disimbolkan dengan FTH1 berlokasi di kromosom 11. Sedangkan pada tumbuh – tumbuhan dan bakteri ternyata hanya memiliki satu jenis subunit yaitu Tipe H. Ferritin mengandung sekitar 23% besi. Setiap satu kompleks ferritin bisa menyimpan kira – kira 3000 - 4500 ion Fe3+ di dalamnya. Ferritin bisa ditemukan atau disimpan di Liver, Limpa, Otot Skelet dan Sumsum Tulang. Dalam keadaan normal, hanya sedikit ferritin yang terdapat dalam plasma manusia. Jumlah ferritin dalam plasma menggambarkan jumlah besi yang tersimpan di dalam tubuh kita.

STRUKTUR DAN FUNGSI FERRITIN

Ferritin adalah protein berbentuk glubular dan mempunyai dua lapisan dengan diameter luarnya berukuran 12 nm dan diameter dalamnya berukuran 8 nm. Besi tersimpan di dalam protein ferritin tersebut tepatnya di tengah. Bila dilihat dari stuktur kristalnya, satu monomer ferritin mempunyai lima helix penyusun yaitu blue helix, orange helix, green helix, yellow helix dan red helix dimana ion Fe berada di tengah kelima helix tersebut.
Besi bebas bersifat toxic untuk sel, karena besi bebas merupakan katalisis pembentukan radikal bebas dari Reactive Oxygen Species (ROS) melalui reaksi Fenton. Untuk itu, sel membentuk suatu mekanisme perlindungan diri yaitu dengan cara membuat ikatan besi dengan ferritin. Jadi ferritin merupakan Protein utama penyimpan besi di dalam sel.
Asupan zat besi yang masuk ke dalam tubuh kita kira-kira 10 – 20 mg setiap harinya, tapi ternyata hanya 1 – 2 mg atau 10% saja yang di absorbsi oleh tubuh. 70% dari zat besi yang di absorbsi tadi di metabolisme oleh tubuh dengan proses eritropoesis menjadi Hemoglobin, 10 - 20% di simpan dalam bentuk ferritin dan sisanya 5 – 15% di gunakan oleh tubuh untuk proses lain. Besi Fe3+ yang disimpan di dalam ferritin bisa saja di lepaskan kembali bila ternyata tubuh membutuhkannya.

KELAINAN

Kadar ferritin normal 30-300 ng/mL untuk pria dan 15-200 ng/mL untuk wanita. Kadar ferritin yang terlalu tinggi dapat menyebabkan terjadinya hemokromatosis sedangkan kadar ferritin yang terlalu rendah dapat menyebabkan terjadinya anemia defisiensi besi.
Anemia defisiensi besi atau yang dikenal juga dengan Anemia Sideropenik biasanya disebabkan karena asupan zat besi yang kurang, infeksi parasit, menoragi, metroragi, menstruasi, premenopause, kehamilan, ulkus peptikum, penggunaan obat-obatan dalam jang waktu yang lama dan lain – lain. Ketika tubuh kehilangan zat besi melebihi asupannya maka tubuh akan mulai membongkar dan memakai besi yang tersimpan dalam ferritin di liver, limpa, otot dan sumsum tulang, yang merupakan cadangan dalam tubuh. Kadar ferritin pun berkurang secara progresif. Cadangan besi yang telah berkurang tidak dapat memenuhi kebutuhan untuk pembentukan eritrosit, sehingga eritrosit yang dihasilkan jumlahnya menjadi lebih sedikit. Kadar eritrosit menurun mengakibatkan hemoglobin pun ikut menurun. Mulailah terjadi anemia. Tubuh pun berusaha melakukan kompensasi, dimana sumsum tulang berusaha untuk menggantikan kekurangan besi dengan mempercepat pembelahan sel dan menghasilkan eriitrosit dengan ukuran yang sangat kecil (Mikrositik) yang khas untuk anemia defisiensi besi.
Pemeriksaan serum Ferritin merupakan pemeriksaan yang paling spesifik untuk mendiagnosa Anemia defisiensi besi. Kadar serum ferritin yang sangat rendah menunjukkan Anemia defisiensi besi.

Referensi :
 Anonim, Ferritin, www.nlm.nih.gov/medlinepus , last update 1/12/2009 by Todd Gersten
 Fleming, Robert E., Bacon, Bruce R., 2005, The New England Journal of Medicine 325:17, Orchestration of Iron Homeostasis, www.nejm.org
 Goddard,A F., et all, 2005, British Society Gastroenterology: Guidelines for the management of iron deficiency anaemia.
 Murray, dkk. Biokimia Harper, ECG, Jakarta, 2009

Sumber : id.shvoong.com
Related Posts Widget for Blogger

No comments:

Post a Comment

did not find what you were looking for? try "search article"